Tentang Endometriosis

June 19, 2011 by: Nanatan 4,158 views


Penyakit endometriosis merupakan satu jenis penyakit yang agak luar biasa. Banyak wanita yang tidak mengetahui tentang penyakit ini, padahal penderitanya bisa dibilang lumayan banyak.
Nyeri haid merupakan keadaan yang normal terjadi pada pasien yang mengalami menstruasi. Namun tak jarang nyeri haid menjadi suatu tanda adanya gangguan pada organ reproduksi wanita, endometriosis salah satunya.

Apakah Sebenarnya Penyakit Endometriosis?

Endometriosis berasal dari kata endometrium, yaitu jaringan yang melapisi dinding rahim.
Endometriosis = Sel Endometrium yang erpindah.

Endometriosis merupakan kondisi medis pada wanita yang ditandai dengan tumbuhnya sel endometrium di luar kandung rahim.
Kandung rahim dilapisi oleh sel endometrium yang sangat berpengaruh terhadap hormon wanita. Normalnya, sel endometrium rahim akan menebal selama siklus kewanitaan berlangsung agar nantinya siap untuk menerima hasil pembuahan antara sel telur dan sperma. Bila sel telur tidak mengalami pembuahan, maka sel endometrium yang menebal akan meluruh dan keluar sebagai darah menstruasi.

Penyakit endometriosis adalah tumbuhnya jaringan dinding rahim di luar rahim. Jaringan ini tumbuh dan menempel atau disebut susukan (implant) pada tempat-tempat seperti di indung telur (ovarium), saluran telur (tuba Falloppii), dinding rahim bagian luar, usus besar, kandungan kemih dan jaringan yang menunjang uterus, daerah di antara vagina dan rectum, bahkan di tempat yang lebih jauh dari perut seperti mata dan paru, meski hal ini jarang sekali terjadi.


Bagaimanapun juga lapisan endometrium yang berada di luar rahim tidak memiliki jalan keluar untuk perdarahan yang dialaminya setiap bulan, sehingga lapisan disekitarnya akan meradang dan membengkak.

Bagaimana Gejala dan Tanda2 Penyakit Endometriosis?

Gejala dari endometriosis ini bervariasi dan tidak bisa diprediksi.
Tanda paling umum adalah rasa sakit yang parah pada perut bagian bawah, bisa terasa sekali-kali maupun terus-menerus
Rasa sakit ini seringkali tidak tertahankan sehingga menyebabkan penderitanya tidak bisa melakukan kegiatan seperti biasa.
Biasanya menjadi lebih parah selama beberapa hari menjelang menstruasi dan makin bertambah parah sampe pendarahan berkurang,

Pada endometriosis, jaringan rahim yang menyimpang ini berjalan seperti jaringan normal, sehingga menyebabkan perdarahan abnormal atau rasa sangat sakit dan kram pada waktu datang bulan.
Penyakit ini biasa terjadi pada wanita subur antara usia 25 -44 tahun, walau tidak menutup kemungkinan juga bisa terjadi pada remaja dan usia produktif, dan juga 25-50% terjadi pada wanita mandul.

Endometriosis seringkali tidak mendapatkan perhatian serius baik dari penderitanya maupun oleh dokter yang memeriksa, karena seringkali rasa sakit pada saat menstruasi dianggap sebagai hal yang sudah selayaknya dialami setiap bulan.


Selain itu ada juga berbagai gejala lainnya seperti: sakit sewaktu melakukan hubungan intim, sakit punggung bagian bawah, sulit buang air besar, diare, atau merasa sakit bahkan mengeluarkan darah ketika buang air kecil, pendarahan dari anus pada waktu buang air besar yang sangat sakit, dan juga merasakan sakit saat berolahraga, atau sesudah pemeriksaan panggul.

Hal tersebut karena endometrial implant ini dapat menekan organ tubuh yang membawa kotoran keluar dari tubuh, seperti kandung kemih, usus, dan rectum.

Walaupun demikian, bila kita mengalami gejala-gejala di atas, jangan langsung memvonis diri kita mengalami endometriosis. Bisa aja disebabkan oleh hal-hal lain, misalnya infeksi. Oleh karena itu, kita harus segera ke dokter dan menceritakan apa yang kita alami dengan lengkap dan jelas.

Tingkatan Endometriosis:
Secara garis besar endometriosis ini dibagi menjadi empat tingkatan berdasarkan beratnya penyakit:

Stage 1: Lesi bersifat superficial, ada perlengketan di permukaan saja
Stage 2: Adanya pelengketan sampai di daerah cul-de-sac
Stage 3: Sama seperti stage 2, namun disertai endometrioma yang kecil pada ovarium dan ada perlengketan juga yang lebih banyak.
Stage 4: Sama seperti stage 3, namun disertai endometrioma yang besar dan perlengketan yang sangat luas.

Apa Penyebab Endometriosis?

Sampai saat ini para dokter belum mengetahui alasan yang pasti mengapa endometrium sampai dapat tumbuh di luar rahim. Sejauh ini ada beberapa penyebab seperti terurai di bawah ini:

1. Teori menstruasi retrograd (menstruasi yang bergerak mundur). Sel-sel endometrium yang dilepaskan pada saat menstruasi bergerak mundur ke tuba falopii lalu masuk ke dalam panggul atau perut dan tumbuh di dalam rongga panggul/perut.
2. Teori sistem kekebalan
. Kelainan sistem kekebalan menyebabkan jaringan menstruasi tumbuh di daerah selain rahim.
3. Teori genetik Keluarga tertentu
yang memiliki faktor yang menyebabkan kepekaan yang tinggi terhadap endometriosis.

Sementara sebagian besar kasus endometriosis yang didiagnosis pada perempuan berusia sekitar 25-40 tahun, endometriosis telah dilaporkan juga terjadi pada anak perempuan berusia 11 tahun. Endometriosis jarang ditemukan pada wanita pascamenopause. Endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita kulit putih dibandingkan dengan wanita Amerika dan Asia Afrika. Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa endometriosis paling umum juga terjadi pada wanita tinggi, kurus dengan indeks massa tubuh rendah (BMI). Menunda kehamilan sampai usia yang lebih tua juga diyakini meningkatkan risiko mengembangkan endometriosis.

Ada beberapa teori yang menjelaskan mengapa endometrial implant dapat sampai keluar rahim. Diantaranya ialah adanya kemungkinan darah kotor melimpah atau tumpah ke belakang rahim melalui saluran fallopian. Ada juga yang mengatakan endometrium ini dibawa ke tempat lain melalui saluran darah atau saluran kelenjar dan bisa juga karena wanita-wanita yang sering tertekan jiwanya (stress).

Kemungkinan lain adalah bahwa area yang melapisi organ-organ panggul memiliki sel primitif yang mampu tumbuh menjadi bentuk lain dari jaringan, seperti sel-sel endometrium. (Proses ini disebut metaplasia selom.)

Selain itu juga ada kemungkinan bahwa transfer langsung jaringan endometrium selama operasi mungkin bertanggung jawab untuk endometriosis implan, kadang-kadang terlihat pada bekas luka bedah (misalnya, episiotomi atau bekas luka bedah caesar).
Transfer sel-sel endometrial lewat aliran darah atau sistem limfatik adalah penjelasan yang paling mungkin untuk kasus yang jarang dari endometriosis yang berkembang di otak dan organ lain yang jauh dari panggul.

Akhirnya, beberapa studi telah menunjukkan alternasi dalam respon kekebalan pada wanita dengan endometriosis, yang mungkin mempengaruhi kemampuan alami tubuh untuk mengenali dan menghancurkan pertumbuhan jaringan endometrium salah arah.

Apa Dampak Dari Penyakit Endometriosis?

Dampak yang sering ditemukan pada pengidap endometriosis adalah gangguan kesuburan sehingga sukar hamil (infertil). Dan diperkirakan 50% – 60% dari kasus endometriosis akan menjadi infertil (mandul).Ini dialami oleh sekitar 30-40% wanita atau dua kali kejadian pada populasi umum. Pada kelompok wanita infertil yang memeriksakan diri ke spesialis ternyata hampir 93% mengidap endometriosis.

Endometriosis yang invasiv akan menimbulkan kemandulan akibat berkurangnya fungsi rahim dan adanya pelengketan pada tuba dan ovarium.
Namun beberapa teori mengatakan bahwa endometriosis akan menghasilkan prostaglandin dan materi peradangan yang lain yang dapat mengganggu fungsi dari organ reproduksi seperti kontraksi atau spasme. Disebutkan juga pada endometriosis fungsi tuba fallopi dalam melakukan pengambilan sel telur dari ovarium menjadi terganggu. Bahkan dapat merusak epitel dinding rahim dan menyebabkan kegagalan dalam implantasi hasil pembuahan (sehingga pasien dengan endometriosis memiliki riwayat abortus 3 kali lebih besar dari orang normal).

Endometriosis bisa juga menyebabkan keguguran pada kehamilan. Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi ada kemungkinan endometriosis menyebabkan gangguan dalam hormon wanita yang menimbulkan keadaan keracunan sehingga menganggu pertumbuhan janin. Kadangkala wanita yang mengidap penyakit endometriosis bisa beberapa kali mengalami keguguran.

Endometriosis dan resiko Kanker:

Pada dasarnya endometriosis bukanlah kanker. Endometriosis merupakan sejenis kista. Namun adalah sangat beresiko jika penyakit ini diderita oleh seseorang yang punya riwayat kanker, khususnya kanker rahim dan ovarium

Wanita dengan endometriosis tampaknya memiliki risiko sedikit meningkat untuk pengembangan jenis tertentu pada kanker ovarium, yang dikenal sebagai ???Epitel Ovarian Cancer (EOC), menurut beberapa studi penelitian. Risiko ini tampaknya tertinggi pada wanita dengan endometriosis dan infertilitas primer (mereka yang tidak pernah melahirkan), tetapi penggunaan pil KB/Oral Cotraceptive Pills (OCPs), yang kadang-kadang digunakan dalam pengobatan endometriosis, tampaknya secara signifikan mengurangi risiko ini .

Alasan hubungan antara endometriosis dan kanker ovarium epitelial tidak jelas dipahami. Satu teori adalah bahwa endometriosis implan sendiri mengalami transformasi kanker. Kemungkinan lain adalah bahwa kehadiran dari endometriosis mungkin berhubungan dengan faktor genetik atau lingkungan lain yang juga meningkatkan risiko perempuan terkena kanker ovarium.

Bagaimana Pemeriksaan dan Pengobatan Penyakit Endometriosis?

*Pemeriksaan:
Bagi wanita yang sering mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan diatas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Melalui pemeriksaan terhadap rahim dengan pemeriksaan ultrasound melalui vaginal sonography.

Beberapa jenis pemeriksaan buat mendeteksi penyakit endometriosis:
1. Laparoskopi
2. Biopsi endometrium
3. USG Rahim
4. Barium Enema
5. CT Scan
atau MRI Perut


*Pengobatan:
Pilihan pengobatan untuk endometriosis:
1. Obat-obatan yang menekan aktivitas ovarium dan memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium
2. Pembedahan untuk membuang sebanyak mungkin endometriosis
3. Kombinasi obat-obatan dan pembedahan
4. Histerektomi, seringkali disertai dengan pengangkatan tuba falopii dan ovarium.

Harus disadari bahwa endometriosis bersifat progresif dan berulang, sehingga pengangkatan rahim (histerektomi) dan kedua saluran telur menjadi pilihan yang paling mungkin untuk menghilangkan endemetriosisnya. Namun tindakan ini tidak mungkin dilakukan pada mereka yang masih ingin mempunyai keturunan atau belum menikah. Sehingga pilihan tepat yang dapat dilakukan yaitu menggunakan obat-obatan dan terapi.

- Terapi obat2an dapat dilakukan menggunakan:

1. Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs (NSAID/obat antiinflamasi nonsteroid).
NSAID tidak hanya mengurangi nyeri, namun dapat mengurangi perdarahan yang terjadi. Obat ini menekan produksi estrogen oleh indung telur dengan menghambat sekresi hormon pengatur dari kelenjar pituitari. Akibatnya, periode menstruasi berhenti, mirip seperti saat menopause. Pada kasus yang berat, diperkenankan penggunaan morfin, namun itu tergantung pada kebijakan dokter.
Efek samping dari obat ini adalah: hot flashes , vagina kering , perdarahan vagina yang tidak teratur , perubahan mood, kelelahan, dan osteoporosis.

2. Progesterone atau Progestin
Progesterone dapat “melawan” aktivitas estrogen dan mencegah terjadinya penebalan pada endometrium. Progestin merupakan zat kimia turunan progesterone.
Progestin [misalnya, medroksiprogesteron asetat (Provera, Cycrin, Amin), norethindrone asetat, norgestrel asetat (Ovrette)] lebih kuat daripada pil KB dan direkomendasikan untuk wanita yang tidak dapat mengkonsumsil pil KB .

3. Menghindari segala bentuk bahan yang bersifat estrogenik.

4. Kontrasepsi oral
Terapi kontrasepsi oral dapat mengurangi nyeri yang berhubungan dengan endometriosis. Kombinasi yang paling umum digunakan adalah dalam bentuk pil KB.
Efek samping: masalah berat badan , nyeri payudara , mual , dan mens tidak teratur.

Contoh jenis obat2an lain yang digunakan dalam mengatasi Endometrioasis:
- Kontrasepsi oral (Pil KB) dapat menekan keluhan nyeri hingga 75% pada penderita endometriosis. Pil KB ini dapat diminum secara kontinyu atau sesuai siklus menstruasi dan dapat dihentikan setelah 6 sampai 12 siklus.
Efek samping yang mungkin muncul adalah nyeri kepala, mual dan hipertensi. Pil ini diminum sesuai dengan aturan, dengan tidak meminum pil placebonya.
- Danazole (steroid) yang bekerja dengan menciptakan suasana androgenik, dapat menekan pertumbuhan endometriosis. Namun ada efek samping yang muncul seperti hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebih pada wanita dengan distribusi seperti laki-laki), acne, dll.
- Lupron (GnRH agonis)
bekerja dengan meningkatkan kadar GnRH di darah, seingga kadar LH dan FSH turun, namun efek samping yang mungkin muncul adalah munculnya osteoporosis. Dapat digunakan hanya 6 bulan saja. Dosis yang diberikan 11,25 mg untuk 3 bulan, kemudian dilanjutkan sebukan sekali selama 6 bulan 3,75 mg.
- Aromatase inhibitor merupakan pengobatan yang memblok peroduksi dari estrogen.
Sebuah pendekatan baru untuk pengobatan endometriosis telah melibatkan pemberian obat yang dikenal sebagai inhibitor aromatase [misalnya, anastrozol (Arimidex) dan letrozole (Femara)]. Obat ini bertindak dengan menghentikan pembentukan estrogen lokal di dalam endometriosis. Mereka juga menghambat produksi estrogen di indung telur, otak, dan sumber lainnya, seperti jaringan adipose. Penelitian masih berlangsung untuk mengkarakterisasi efektivitas inhibitor aromatase dalam pengelolaan endometriosis. Aromatase inhibitor menyebabkan hilangnya tulang yang signifikan dengan penggunaan jangka panjang dan tidak dapat digunakan sendiri tanpa obat lain pada wanita premenopause karena mereka menstimulasi perkembangan folikel ganda pada ovulasi.

- Pembedahan

Pengobatan dengan pembedahan dibagi menjadi 3 kelompok:

1. Pembedahan konservatif, dilakukan jika organ reproduksi masih diperlukan, tindakan ini dilakukan dengan jalan mengeksisi, mengangkat jaringan endometriosisnya saja, dan menjaga organ panggul tetap dalam keadaan baik.
2. Semi konservatif , jika fungsi ovarium masih dibutuhkan.
3. Pembedahan radikal, jika rahim indung telur dan ovarium diangkat total. ini dilakukan pada pasien yang mengalami nyeri hebat dan sudah resisten dengan medikamentosa (obat-obatan), serta sudah tidak menginginkan keturunan lagi. Tetapi tindakan radikal ini juga tidak menjamin pasien akan terbebas dari masalah nyeri.

Pembedahan biasanya dilakukan dengan laparoskopi. Implan endometrium dapat dipotong oleh laser atau dilenyapkan. Jika penyakit ini luas dan anatomi terdistorsi, laparotomi (membuka dinding perut melalui sayatan yang lebih besar) mungkin diperlukan.

Sementara pengobatan bedah dapat sangat efektif dalam pengurangan nyeri, tingkat kekambuhan endometriosis setelah perawatan bedah telah diperkirakan setinggi 40%. Banyak dokter menyarankan untuk wanita yang telah menjalani operasi endometriosis untuk mengambil obat oral setelah operasi guna membantu menjaga gejala lega.

- Pengobatan infertilitas yang terkait dengan endometriosis

Endometriosis lebih sering terjadi pada masa subur. Namun, kondisi tsb biasanya tidak sepenuhnya mencegah kehamilan atau menjadi mandul. Kebanyakan wanita dengan endometriosis masih akan bisa hamil, terutama mereka dengan endometriosis ringan sampai sedang. Diperkirakan bahwa hingga 70% perempuan dengan endometriosis ringan dan sedang akan hamil dalam tiga tahun tanpa perawatan khusus.

Alasan penurunan kesuburan tidak sepenuhnya dipahami, tapi mungkin karena kedua faktor anatomi dan hormon. Kehadiran endometriosis mungkin melibatkan massa dari jaringan atau jaringan parut (adhesions) didalam pelvis yang mungkin menyimpangkan struktur-struktur anatomi yang normal, seperti tabung Fallopii, yang mengangkut telur dari ovarium. Atau, endometriosis dapat mempengaruhi kesuburan melalui produksi hormon dan zat-zat lain yang memiliki efek negatif pada ovulasi, pembuahan telur, dan / atau implantasi embrio. Infertilitas yang terkait dengan endometriosis lebih sering terjadi pada wanita dengan jenis penyakit yang sangat parah.

Pilihan pengobatan untuk infertilitas yang berhubungan dengan endometriosis bervariasi, tetapi kebanyakan dokter percaya bahwa perawatan bedah lebih unggul pada pengobatan hormonal atau medis untuk endometriosis ketika tujuannya adalah peningkatan kesuburan. Teknik reproduksi dibantu juga dapat digunakan pada saat yang tepat dalam kombinasi dengan terapi bedah.

Bagaimana Dengan Kekambuhan Endometriosis?

Faktor yang menentukan kesembuhan penyakit ini sangat bergantung dari pasien. Hal ini dikarenakan belum ada penanganan yang benar-benar dapat membebaskan pasien endometriosis dari nyeri yang hebat.
Perlu diingat, penanganan dengan melakukan operasi awal laparoskopi sangat diperlukan untuk menentukan tingkat keparahan endometriosis sehingga dapat dijadikan acuan dalam pemberian terapi. Adanya keinginan pasien untuk terbebas dari nyeri dan keinginannya memiliki keturunan memerlukan pertimbangan bagi dokter dalam memilih terapi pada pasien.

 

oleh: Joanna Tan

sumber:
- medicinenet.com
- wikipedia
- berbagai sumber informasi medis lainnya

 

 

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Trackbacks

Leave a Reply

Connect with Facebook

CommentLuv badge